YouLyrics

Minggu, 24 Juni 2012

MAKALAH NYERI



MAKALAH









  ( NYERI)

NAMA           :RHAISHUDIN J RUMANDAN
NIM                :P.1103246
JURUSAN     :KEPERAWATAN
KELAS          :E


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN 
STKES PASAPUA
AMBON



KATA PENGANTAR

          Puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, Karena atas Rahmat dan  karunianyalah saya bisa menyelesaikan tugas makalah ini yang berjudul tentang Nyeri tepat pada waktunya
      Saya menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih ada kekurangan,oleh karena itu saya mengharapkan himbauan dari dosen  pemateri terhadap penyusunan maklah ini.





                                                                                                Ambon, 10 Mei 2012


                                                                                                            Penulis






DAFTAR ISI
Kata pengentar
Daftar isi

BAB I : PENDAHULUAN
1.      Latar belakang
2.      Rumusan masalah
3.      Tujuan

BAB II :TINJAUAN TEORI
1.      Pengertian Nyeri
2.      Klasifikasi Nyeri

BAB III : PEMBAHASAN
1.      Guided Imaginary
2.      Massage atau pijatan
3.      Latihan Relaksasi Autogenik
BAB IV :PENUTUP
1.      Kesimpulan
2.      Saran

DAFTAR PUSTAKA






BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKAN
      Adapun pembuatan makalah ini untuk mengetahui sejauh mana rasa nyeri dapat dirasakan oleh penderitanya. Yang mana seperti yang kita ketahu bahwa pada penduduk indonesia sering kita jumpai atau kita dengar yang terkena serangan nyeri, ini dikarenakan penduduk indonesia pada sibuk melakukan aktivitas masing – masing.
Nyeri merupakan problem yang sering terjdi pada orang yang selalu melakiukan aktivitas, contohnya pada pekerja industri, pekerja yang melakukan gerakan tubuh,seperti tangan, kaki, dan yang lainnya secara berulang tanpa istirahat, serta penyakit yang timbul akibat proses penuaan atau degenerasi. Nyeri sangat menggangu aktivitas seseorang
yang  melibatkan gerkan  tersebut, sehingga mengalami
hambatan dalam  melakukan  pekerjaan sehari-hari.
Reseptor nyeri adalah organ tubuh yang berfungsi untuk menerima rangsang nyeri. Organ tubuh yang berperan sebagai reseptor nyeri adalah ujung syaraf bebas dalam kulit yang berespon hanya terhadap stimulus kuat yang secara potensial merusak. Reseptor nyeri disebut juga nosireceptor, secara anatomis reseptor nyeri (nosireceptor) ada yang bermielien dan ada juga yang tidak bermielin dari syaraf perifer.
Berdasarkan letaknya, nosireseptor dapat dikelompokkan dalam beberapa bagaian tubuh yaitu pada kulit (Kutaneus), somatik dalam (deep somatic), dan pada daerah viseral, karena letaknya yang berbeda-beda inilah, nyeri yang timbul juga memiliki sensasi yang berbeda.
Nyeri tidak memandang usia ataupun jenis kelamin, jadi siapa saja pun pasti bisa terkena serangan nyeri.



B. RUMUSAN MASALAH
1.      Guided Imaginary
2.      Massage atau pijatan
3.      Latihan Relaksasi Autogenik
C. TUJUAN
 Mahasiswa mampu memahami tentang pengertian Nyeri
 Mahasiswa mampu memahami tentang Klasifikasi Nyeri
 Mahasiswa mampu memahami tentang Guided Imaginary
 Mahasiswa mampu memahami tentang Massage atau pijatan
 Mahasiswa mampu memahami tentang Latihan Relaksasi Autogenik













BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A.     PENGERTIAN  NYERI
Nyeri merupakan problem yang dialami oleh semua kalangan, khususnya mulai dari yang berusia beranjak dewasa sapai orangtua sekalipun. Nyeri biasanya terjadi pada saat kita sudah  melakukan aktivitas masing – masing. Selain melakukan aktivitas nyeri bisa terjadi karena keadaan fisiologis, contohnya pada saat hait, yang dialami oleh wanita.
B. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI RESPON NYERI
1) Usia
Anak belum bisa mengungkapkan nyeri, sehingga perawat harus mengkaji respon nyeri pada anak. Pada orang dewasa kadang melaporkan nyeri jika sudah patologis dan mengalami kerusakan fungsi. Pada lansia cenderung memendam nyeri yang dialami, karena mereka mengangnggap nyeri adalah hal alamiah yang harus dijalani dan mereka takut kalau mengalami penyakit berat atau meninggal jika nyeri diperiksakan.
2) Jenis kelamin
Gill (1990) mengungkapkan laki-laki dan wnita tidak berbeda secara signifikan dalam merespon nyeri, justru lebih dipengaruhi faktor budaya (ex: tidak pantas kalo laki-laki mengeluh nyeri, wanita boleh mengeluh nyeri).
3) Kultur
Orang belajar dari budayanya, bagaimana seharusnya mereka berespon terhadap nyeri misalnya seperti suatu daerah menganut kepercayaan bahwa nyeri adalah akibat yang harus diterima karena mereka melakukan kesalahan, jadi mereka tidak mengeluh jika ada nyeri.
4) Makna nyeri
Berhubungan dengan bagaimana pengalaman seseorang terhadap nyeri dan dan bagaimana mengatasinya.
5) Perhatian
Tingkat seorang klien memfokuskan perhatiannya pada nyeri dapat mempengaruhi persepsi nyeri. Menurut Gill (1990), perhatian yang meningkat dihubungkan dengan nyeri yang meningkat, sedangkan upaya distraksi dihubungkan dengan respon nyeri yang menurun. Tehnik relaksasi, guided imagery merupakan tehnik untuk mengatasi nyeri.
6) Ansietas
Cemas meningkatkan persepsi terhadap nyeri dan nyeri bisa menyebabkan seseorang cemas.
7) Pengalaman masa lalu
Seseorang yang pernah berhasil mengatasi nyeri dimasa lampau, dan saat ini nyeri yang sama timbul, maka ia akan lebih mudah mengatasi nyerinya. Mudah tidaknya seseorang mengatasi nyeri tergantung pengalaman di masa lalu dalam mengatasi nyeri.
8) Pola koping
Pola koping adaptif akan mempermudah seseorang mengatasi nyeri dan sebaliknya pola koping yang maladaptive akan menyulitkan seseorang mengatasi nyeri.
9) Support keluarga dan sosial
Individu yang mengalami nyeri seringkali bergantung kepada anggota keluarga atau teman dekat untuk memperoleh dukungan dan perlindungan
Intensitas Nyeri
Intensitas nyeri adalah gambaran tentang seberapa parah nyeri dirasakan oleh individu, pengukuran intensitas nyeri sangat subjektif dan individual dan kemungkinan nyeri dalam intensitas yang sama dirasakan sangat berbeda oleh dua orang yang berbeda oleh dua orang yang berbeda. Pengukuran nyeri dengan pendekatan objektif yang paling mungkin adalah menggunakan respon fisiologik tubuh terhadap nyeri itu sendiri. Namun, pengukuran dengan tehnik ini juga tidak dapat memberikan gambaran pasti tentang nyeri itu sendiri (Tamsuri, 2007).
Menurut smeltzer, S.C bare B.G (2002) adalah sebagai berikut :
Keterangan :
0 :Tidak nyeri
1-3 : Nyeri ringan : secara obyektif klien dapat berkomunikasi
dengan baik.
4-6 : Nyeri sedang : Secara obyektif klien mendesis,
menyeringai, dapat menunjukkan lokasi nyeri, dapat mendeskripsikannya, dapat mengikuti perintah dengan baik.
7-9 : Nyeri berat : secara obyektif klien terkadang tidak dapat
mengikuti perintah tapi masih respon terhadap tindakan, dapat menunjukkan lokasi nyeri, tidak dapat mendeskripsikannya, tidak dapat diatasi dengan alih posisi nafas panjang dan distraksi
10 : Nyeri sangat berat : Pasien sudah tidak mampu lagi
berkomunikasi, memukul.
Karakteristik paling subyektif pada nyeri adlah tingkat keparahan atau intensitas nyeri tersebut. Klien seringkali diminta untuk mendeskripsikan nyeri sebagai yang ringan, sedang atau parah. Namun, makna istilah-istilah ini berbeda bagi perawat dan klien. Dari waktu ke waktu informasi jenis ini juga sulit untuk dipastikan.
Skala deskritif merupakan alat pengukuran tingkat keparahan nyeri yang lebih obyektif. Skala pendeskripsi verbal (Verbal Descriptor Scale, VDS) merupakan sebuah garis yang terdiri dari tiga sampai lima kata pendeskripsi yang tersusun dengan jarak yang sama di sepanjang garis. Pendeskripsi ini diranking dari “tidak terasa nyeri” sampai “nyeri yang tidak tertahankan”. Perawat menunjukkan klien skala tersebut dan meminta klien untuk memilih intensitas nyeri trbaru yang ia rasakan. Perawat juga menanyakan seberapa jauh nyeri terasa paling menyakitkan dan seberapa jauh nyeri terasa paling tidak menyakitkan. Alat VDS ini memungkinkan klien memilih sebuah kategori untuk mendeskripsikan nyeri. Skala penilaian numerik (Numerical rating scales, NRS) lebih digunakan sebagai pengganti alat pendeskripsi kata. Dalam hal ini, klien menilai nyeri dengan menggunakan skala 0-10. Skala paling efektif digunakan saat mengkaji intensitas nyeri sebelum dan setelah intervensi terapeutik. Apabila digunakan skala untuk menilai nyeri, maka direkomendasikan patokan 10 cm (AHCPR, 1992).
Skala analog visual (Visual analog scale, VAS) tidak melebel subdivisi. VAS adalah suatu garis lurus, yang mewakili intensitas nyeri yang terus menerus dan pendeskripsi verbal pada setiap ujungnya. Skala ini memberi klien kebebasan penuh untuk mengidentifikasi keparahan nyeri. VAS dapat merupakan pengukuran keparahan nyeri yang lebih sensitif karena klien dapat mengidentifikasi setiap titik pada rangkaian dari pada dipaksa memilih satu kata atau satu angka (Potter, 2005).
Skala nyeri harus dirancang sehingga skala tersebut mudah digunakan dan tidak mengkomsumsi banyak waktu saat klien melengkapinya. Apabila klien dapat membaca dan memahami skala, maka deskripsi nyeri akan lebih akurat. Skala deskritif bermanfaat bukan saja dalam upaya mengkaji tingkat keparahan nyeri, tapi juga, mengevaluasi perubahan kondisi klien. Perawat dapat menggunakan setelah terapi atau saat gejala menjadi lebih memburuk atau menilai apakah nyeri mengalami penurunan atau peningkatan (Potter, 2005).












BAB III
PEMBAHASAN
A.    Guided Imaginary
Yaitu upaya yang dilakukan untuk mengalihkan persepsi rasa nyeri  dengan mendorong pasien untuk mengkhayal dengan bimbingan. Tekniknya sebagai berikut:
a)     Atur posisi yang nyaman pada klien.
b)     Dengan suara yang lembut, mintakan klien untuk memikirkan hal-hal yang menyenangkan atau pengalaman yang membantu penggunaan semua indra.
c)      Mintakan klien untuk tetap berfokus pada bayangan yang menyenangkan sambil merelaksasikan tubuhnya.
d)     Bila klien tampak relaks, perawat tidak perlu bicara lagi.
e)     Jika klien menunjukkan tanda-tanda agitasi, gelisah, atau tidak nyaman, perawat harus menghentikan latihan dan memulainya lagi ketika klien siap.
B.     Massage atau pijatan
Merupakan manipulasi yang dilakukan pada jaringan lunak yang bertujuan untuk mengatasi masalah fisik, fungsional atau terkadang psikologi.
Pijatan dilakukan dengan penekanan terhadap jaringan lunak baik secara terstruktur ataupun tidak, gerakan-gerakan atau getaran, dilakukan menggunakan bantuan media ataupun tidak.
Beberapa teknik massage yang dapat dilakukan untuk distraksi adalah sebagai berikut;
a)     Remasan. Usap otot bahu dan remas secara bersamaan.
b)     Selang-seling tangan. Memijat punggung dengan tekanan pendek, cepat dan bergantian tangan.
c)      Gesekan. Memijat punggung dengan ibu jari, gerakannya memutar sepanjang tulang punggung dari sacrum ke bahu.
d)     Eflurasi. Memijat punggung dengan kedua tangan, tekanan lebih halus dengan gerakan ke atas untuk membantu aliran balik vena.
e)     Petriasi. Menekan punggung secara horizontal. Pindah tangan anda dengan arah yang berlawanan, menggunakan gerakan meremas.
f)     Tekanan menyikat. Secara halus, tekan punggung dengan ujung-ujung jari untuk mengakhiri pijatan.
C.     Latihan Relaksasi Autogenik
Teknik relaksasi didasarkan kepada keyakinan bahwa tubuh berespon pada ansietas yang merangsang pikiran karena nyeri atau kondisi penyakitnya. Teknik relaksasi dapat menurunkan ketegangan fisiologis. Teknik ini dapat dilakukan dengan kepala ditopang dalam posisi berbaring atau duduk dikursi. Hal utama yang dibutuhkan dalam pelaksanaan teknik relaksasi adalah klien dengan posisi yang nyaman, klien dengan pikiran yang beristirahat, dan lingkungan yang tenang. Teknik relaksasi banyak jenisnya, salah satunya adalah relaksasi autogenic. Relaksasi ini mudah dilakukan dan tidak berisiko.
Ketika melakukan relaksasi autogenic, seseorang membayangkan dirinya berada didalam keadaan damai dan tenang, berfokus pada pengaturan napas dan detakan jantung. Langkah-langkah latihan relaksasi autogenic adalah sebagai berikut:
a)     Persiapan sebelum memulai latihan
1)      Tubuh berbaring, kepala disanggah dengan bantal, dan mata terpejam.
2)      Atur napas hingga napas menjadi lebih teratur.
3)     Tarik napas sekuat-kuatnya lalu buang secara perlahan-lahan sambil katakan dalam hati ‘saya damai dan tenang’.
b)     Langkah 1 : merasakan berat
1)      Fokuskan perhatian pada lengan dan bayangkan kedua lengan terasa berat. Selanjutnya, secara perlahan-lahan bayangkan kedua lengan terasa kendur, ringan, sehingga terasa sangat ringan sekali sambil katakana ‘saya merasa damai dan tenang sepenuhnya’.
2)      Lakukan hal yang sama pada bahu, punggung, leher dan kaki.
c)     Langkah 2 : merasakan kehangatan
1)      Bayangkan darah mengalir keseluruh tubuh dan rasakan hawa hangatnya aliran darah, seperti merasakan minuman yang hangat, sambil mengatakan dalam diri ‘saya merasa senang dan hangat’.
2)      Ulangi enam kali.
3)     Katakan dalam hati ‘saya merasa damai, tenang’.
d)     Langkah 3 : merasakan denyut jantung
1)      Tempelkan tangan kanan pada dada kiri dan tangan kiri pada perut.
2)      Bayangkan dan rasakan jantung berdenyut dengan teratur dan tenang. Sambil katakana ‘jantungnya berdenyut dengan teratur dan tenang’.
3)     Ulangi enam kali.
4)     Katakan dalam hati ‘saya merasa damai dan tenang’.
e)     Langkah 4 : latihan pernapasan
1)      Posisi kedua tangan tidak berubah.
2)      Katakan dalam diri ‘napasku longgar dan tenang’
3)     Ulangi enam kali.
4)     Katakan dalam hati ‘saya merasa damai dan tenang’.
f)       Langkah 5 : latihan abdomen
1)       Posisi kedua tangan tidak berubah. Rasakan pembuluh darah dalam perut mengalir dengan teratur dan terasa hangat.
2)      Katakan dalam diri ‘darah yang mengalir dalam perutku terasa hangat’.
3)     Ulangi enam kali.
4)     Katakan dalam hati ‘saya merasa damai dan tenang’.
g)     Langkah 6 : latihan kepala
1)      Kedua tangan kembali pada posisi awal.
2)      Katakan dalam hati ‘kepala saya terasa benar-benar dingin’
3)     Ulangi enam kali.
4)     Katakan dalam hati ‘saya merasa damai dan tenang’.
h)     Langkah 7 : akhir latihan
Mengakhiri latihan relaksasi autogenik dengan melekatkan (mengepalkan) lengan bersamaan dengan napas dalam, lalu buang napas pelan-pelan sambil membuka mata.




















BABIV
PENUTUP

A.     KESIMPULAN
Nyeri merupakan problem yang dialami oleh semua kalangan, khususnya mulai dari yang berusia beranjak dewasa sapai orangtua sekalipun. Nyeri biasanya terjadi pada saat kita sudah  melakukan aktivitas masing – masing. Selain melakukan aktivitas nyeri bisa terjadi karena keadaan fisiologis, contohnya pada saat haid, yang dialami oleh wanita.

B.     SARAN
Kita sebagai seseorang yang tinggal dalam suatu lingkungan harus memperhatikan kesehatan kita, khususnya mulai dari yang berusia beranjak dewasa sampai orangtua sekalipun   











DAFTAR PUSTAKA

Priharjo, R (1993). Perawatan Nyeri, pemenuhan aktivitas istirahat. Jakarta : EGC hal : 87.
Shone, N. (1995). Berhasil Mengatasi Nyeri. Jakarta : Arcan. Hlm : 76-80
Ramali. A. (2000). Kamus Kedokteran : Arti dan Keterangan Istilah. Jakarta : Djambatan.
Syaifuddin. (1997). Anatomi fisiologi untuk siswa perawat.edisi-2. Jakarta : EGC. Hlm : 123-136.
Tamsuri, A. (2007). Konsep dan penatalaksanaan nyeri. Jakarta : EGC. Hlm 1-63
Potter. (2005). Fundamental Keperawatan Konsep, Proses dan Praktik. Jakarta: EGC. Hlm 1502-1533.
http://qittun.blogspot.com/2008/10/konsep-dasar-nyeri.html






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar